Toleransi Beragama
NAMA : Muhammad Abdin Arif
NIM : 225020507111052
CLUSTER : 48
TOLERANSI
BERAGAMA
A.
PENDAHULUAN
Pada kali ini saya akan membahas tentang toleransi
beragama, Toleransi berasal dari Bahasa latin tolerantina, yang berarti
kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dengan kata lain
toleransi mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, suka rela dan kelembutan. Toleransi
juga merupakan bentuk akomodasi dalam interaksi sosial. Toleransi beragama
adalah toleransi yang mencakup masalah masalah keyakinan dalam diri manusia
yang berhubungan dengan akidah atau ketuhanan yang diyakininya. Pada dasarnya
seseorang harus dibebaskan untuk memeluk atau meyakini agama nya masing masing.
Toleransi agamapun merupakan relasi dari pengalaman agama dalam bentuk
komunitas. Banyak sekali pertumpahan darah dengan masalah ini, yang semestinya
terwujud dalam sikap toleransi.
B.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Masyarakat dibentuk dalam struktur yang tidak
kelihatan. Dalam masyarakat manusia memiliki Karakteristik yang serba homogen
baik dalam budaya, agama maupun struktur sosial. Agama yang dipahami oleh masyarakat
tentu mempunyai simbol simbolnya tersendiri. Simbol simbol ini memiliki peranan
dominan terhadap keberagaman mereka. Kebanyakan dari masyarakat sederhana ini
berpendidikan rendah atau dalam lingkup ordinary people, mereka memahami agama
orang lain dengan perasaan antipati sehingga toleran yang dikembangkan
masyarakat ini tidak berjalan dengan baik, mereka gampang tersinggung teresntuh
hatinya apabila ajaran agama mereka dihina oleh agama lain. Karakter interaksi
antar kebudayaan dalam masyarakat multicultural adalah terjadinya asimilasi
kebudayaan sehingga orang orang yang hidup dalam masyarakat multikultural
berasimilasi mengenai bagaimana keberagaman yang baik dalam masyarakat dengan
kepemelukan agama yang heterogen. Hal ini meciptakan toleransi yang baik karena
mereka menganggap bahwa masyarakat memiliki struktur moral dan kebudayaan yang
padu dan koheran. Hal seperti ini jarang menjadi permasalahan. Dalam masyrakat
multikultural ada 2 kelompok, yaitu masyrakat beragama educated dan juga
beragama ordinary people. Bagi masyarakat yang beragama educated people,
memahami ajaran agama harus mengikutsertakan analisis rasional, sedangkan
ordinary people, memahami ajaran agama dengan simbol simbol dan tidak
menggunakan analisis rasional . mereka mudah tersulut emosi dan sangat susah
bertoleransi dengan agama lain.
Masyarakat multikultural yang serba
majemuk seperti pada politik, budaya atau bahkan agama. Manusia beragama
cenderung lebih mengalami konflik, mulai dari kelompok beragama yang ekonomi nya
tinggi dengan kelompok agama yang ekonomi nya rendah. Munculnya kesadaran
toleransi antar agama dapat meminimalisir bentrokan yang terjadi. Toleransi
agama yang dikembangkan bukan hanya sebatas menerima keagamaan seseorang namun
juga menerima kebudayaan agama tersebut. Ada dua tipe toleransi beragama,
toleransi beragama pasif, menerima perbedaan sebagai sesuatu yang bersifat
faktual. Kedua, toleran beragama aktif, melibatkan diri ditengah perbedaan
agama tersebut.
Hakekat toleransi adalah hidup
berdampingan secara damai dan saling menghargai setiap keberagaman. Toleransi
beragama yang dilakukan dengan penuh kesadaran akan melahirkan sikap inklusif
sehingga menganggap agama sendiri benar tetapi masih memberikan ruang untuk
menyatakan kebenaran agama lain. Toleransi itu hanya mensyaratkan sikap
menghargai kelompok lain, dan sisanya akan berjalan sendiri dengan seiring
waktu.
Komarudin Hidayat menyebutkan ada
lima tipologi sikap keberagamaan, yakni “eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme,
eklektivisme, dan universalisme”.
A. Eksklusivisme
Pada sikap ini melahirkan pandangan bahwa ajaran yang
paling benar adalah ajaran agama sendiri, sedangkan agama lain sesat dan wajib
dikikis, atau bisa dibilang tidak toleran terhadap agama yang lain. Terlepas
dari sifat negative nya, ternyata sikap ini ada positifnya juga yaitu sebagai
berkomitmen dan tegas dalam memelihara dan mempertahankan kebenaran agamanya.
B. Inkluvisme
Pada sikap ini melahirkan pandangan bahwa agama yang
dipeluknya juga terdapat kebenaran. Meskipun tidak seutuh agama yang di
anutnya. Sikap inklusif cenderung menginterpretasikan kan kembali berbagai hal
dengan cara sedemikian rupa, sehingga hal tersebut tidak hanya cocok namun bisa
diterima.
C. Pluralisme
dan paralelisme
Pada sikap ini melahirkan pandangan bahwasan nya
setiap agama memiliki jalan keselamatan sendiri, dan sikap ini lebih moederat
dari sikap inkluvisme bahkan dari ekskluvisme.
D. Ekletisisme
Pada sikap ini sebagai keberagamaan yang berusaha
memilih dan mempertemukan sebagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan
cocok untuk dirinya. Sikap seperti ini akibat adanya ketidakberdayaan ajaran
suatu agama dan melihat adanya kekuatan ajaran agama lain. Kelompok manusia
yang senang mencari mencari ajaran dari berbagai agama untuk kemudia disatukan
menjadi agama baru. Biasanya orang yang memiliki sikap beragama seperti ini
lemah terhadap ajaran agama itu sendiri.
E. Universalisme
Pada sikap ini melahirkan pandangan bahwa setiap agama
adalah satu dan sama. Menurut Raimundo Panikkar, jika suatu perjumpaan agama
terjadi, baik dalam fakta yang nyata maupun dalam suatu dialog yang disadari,
maka orang membutuhkan metafora dasar untuk mengutarakan masalah-masalah yang
berbeda. Oleh karena itu, tiga macam model perjumpaan agama bisa berguna, yakni
model fisika: pelangi; model geometeri: invarian topologis; dan model
antropologis: Bahasa. Paradigma atau sikap seperti ini para penganut memberi
tanggapan atau respon terhadap doktrin agamanya, dalam memberikan respon ini,
para penganut setidaknya memiliki tiga kecenderungan yang bisa teramati.
Menurut Komarudin Hidayat, ketiga kecenderungan itu, yang menurutnya bukan
sebagai suatu pemisahan, adalah kecenderungan “mistis” (solitary),
“profetik-ideologis” (solidarity), dan “humanis-fungsional”.
C.
KESIMPULAN
Toleransi beragam tidak berarti bahwa
seseorang yang telah mempunyai keyakinan lalu berpindah hanya karena sikap
toleransinya, tidak pula dimaksudkan untuk mengakui kebenaran semua agama/
kepercayaan melainkan bahwa dia tetep pada suatu keyakinan yang diyakini
kebenaran nya. Masyarakat multikultural terpola oleh keragaman budaya termasuk
keragaman agama.
DAFTAR PUSTAKA
Cassanova, J. Public Religions In The Modern World.
Chicago: Chicago University Press, 2008.
Eliade, Mircea. The Sacred and The
Profan. New York, 1959.
Flood, Gavin.
Beyond Phenomenology: Rethinking The Study of Religion. London: Bloomsbury
Academic, 2013.
Hidayat, Komaruddin. Menafsirkan Kehendak Tuhan.
Bandung: Mizan, 2003
Kinloch, Graham C. Sociological Theory: Development
and Major Paradigm. Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Lindbeck, Gerge A. The Natural Of Doctrne: Religion
and Theology in a Post Liberal Age. Philadelphia: The Westminster Press, 1985.
Marty, Martin E. When Faiths Collide. New York:
Blackwell Publishiers, 2004.
Moran, Dormort. Introduction To Phenomenology. New
York, 2012.
Niebuhr, Reinhold. The Tolerance and Intolerance In
Early Judiasm and Christianity. cambridge: Cambridge Universdity Press, 1998.
Parekh, Bikhu. Rethinking Multiculturalism;Cultural
Diversity andPolitical Theory. New York: Palgrave Macmillan, 2005.
Proctor, James. D. Science, Religion and the Human
Experience. New York: Oxford University Press, 2005.
Schoun, Fithjof. Islam and the Perennial Philosophy.
Diterjemahkan oleh J.Peter Hobson. New York: World of Islam Festival Publishing
Company, 1976.
Schuon, Frithjof. The Transcendent Unity of Religions.
Cet. ke-2. Wheaton: Quest Books Theosophical Publishing House, 2005.
Shihab, Alwi. Islam Inklusif. Jakarta: Taraju Press,
2005.
Taylor, Mark. C. Critical Term of Religious Study.
Chicago: Chicago universiy Press, 2010.
Wach, Joachim. The Comparative Study of Religion. New
York: Colombia University Press, 1958.
Walzer, Michael. On Toleration Castle Lectures in
Ethics, Politics, and Economics. New York: Yale University Press, 1997.
Wikipedia. “Epoché,” t.t.
https://id.wikipedia.org/wiki/Epoch%C3%A9. Diakes 02 April 2016.
Komentar
Posting Komentar